Khalifah Education adalah lembaga yang melayani jasa les
privat, guru datang ke rumah siswa di wilayah Yogyakarta dan sekitarnya. Kami
melayani jasa les privat untuk semua tingkatan mulai dari TK, SD, SMP, SMA, dan
Alumni. Khalifah education memiliki keunggulan dibandingkan lembaga privat lain dengan harga yang sangat
terjangkau. Program yang diberikan di khalifah education disesuaikan dengan
kurikulum yang digunakan di masing-masing sekolah ananda, sehingga sistem
pembelajaran tetap berpedoman dengan kurikulum yang ada di sekolah. Kami
melayani les privat untuk semua mata pelajaran sekolah, CALISTUNG, Baca
Al-Qur’an dan ilmu lainnya yang dibutuhkan dengan mengedepankan metode
pembelajaran yang edukatif dan tenaga pengajar yang professional dan
berkualitas
les privat yogyakarta, les privat jogja, les privat sleman, les privat bantul, les privat islami, les privat murah, les privat jogja berkualitas, bimbingan belajar jogja, bimbingan belajar yogyakarta, kursus jogja, bimbel jogja, bimbel yogyakarta, khalifah education, les privat khalifah education, les privat berkualitas, les privat profesional
Pusing karena jalan usaha yang dirintis selalu menghadapi hambatan? Sudah dicoba dicari pemecahan masalahnya namun urusan bisnis malah semakin berbelit-belit? Atau pusing karena sudah lama berusaha mencari pekerjaan namun penolakan demi penolakan yang ditemui? Atau dipusingkan dengan urusan rumah tangga yang dekat dengan kata pertengkaran? Atau bingung dengan sikap anak yang selalu membangkang tidak menuruti kemauan?
Nah sahabat muslim, jika bingung banyak urusan kita yang terhambat karena satu dan lain hal, coba perbaiki adab terhadap orang tua!
Memang ada hubungannya yah?
Eits.. jangan salah, tentu saja ada. Bahkan hubungannya mungkin saja sangat erat. Kok bisa? Mari simak uraiannya.
1. Ridha Dan Murka Allah Terkait Dengan Ridha Dan Murka Orang Tua
Abdillah bin Amr Bin Ash R.A berkata, Rasulullah SAW bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua”. (HR Bukhori, Ibnu Hiban, Hakim dan Tirmidzi).
Jadi besar kemungkinan penyebab berbagai kesulitan hidup yang selama ini kita alami dikarenakan orang tua tidak ridho bahkan murka pada kita. Dimana murka dan ridhanya orang tua akan mengundang murka dan ridhanya Allah SWT.
Ketidak-ridhaan orang tua kemungkinan besar dipicu oleh minusnya adab kita terhadap orangtua. Orang tua tidak akan marah jika pengorbanan demi pengorbanannya dahulu dalam membesarkan sang anak tidak dilunasi dalam bentuk pengembalian harta benda yang berlimpah oleh sang anak. Apalagi jika kondisi ekonomi sang anak memang jauh dari kata ‘kaya’. Namun orang tua akan marah, bahkan murka mendapati perlakuan anaknya yang jauh dari sopan santun terhadapnya.
Sehingga Al Qur’an mengajarkan bahwa jangan sampai berkata: ‘Ah...’ akan perintah yang dikeluarkan orang tua. Dengan kata lain, kita sebagai anak tidak boleh membantah akan perkataan dan perintah yang keluar dari lisan orang tua. Apalagi sampai menyuruh-nyuruh mereka melakukan sesuatu atau mengajukan permintaan berat di luar kemampuan orang tua dalam memenuhinya.
Namun perlu diperhatikan, perintah orang tua yang wajib dipenuhi hanyalah perintah yang ma’ruf saja. Jika orang tua memerintahkan keburukan atau mengajak dalam kesyirikan maka hal ini wajib pula kita tolak. Akan tetapi penolakan yang diajukan tidak bpleh disertai dengan kata-kata kasar dan nada tinggi. Tolaklah permintaannya dengan halus dan penuh kasih sayang.
Sekali lagi ingat bahwa ridha dan murka orang tua akan mengundang ridho dan murka Allah. Jika Allah SWT sudah ridha maka tidak ada yang bisa menghalang-halangi karunia yang hendak diturunkanNya padamu. Sebaliknya jika Allah SWT sudah murka maka tidak ada satu orang pun yang dapat menolongmu dari musibah dan kesulitan hidup yang hendak ditimpakanNya padamu. Maka dari itu perbaikilah adabmu terhadap orang tua sehingga ia ridha padamu.
2. Allah Akan Memudahkan Urusan Seorang Hamba Yang Memudahkan Urusan Orang Lain
Inilah janji Allah SWT, dzat yang tidak pernah menyalahi janji-Nya. Maka jika memudahkan urusan orang lain yang tidak ada sangkut paut kekerabatannya dengan kita saja sudah bernilai kebaikan dimana Allah SWT akan memudahkan urursan kita, bagaimana jika orang lain yang kita mudahkan urusannya itu adalah orang tua sendiri. Bahkan sedekah yang kita keluarkan untuk orang tua nilai pahalanya dua kali lipat sedekah yang dikeluarkan untuk orang lain.
Jangan sampai kita disini makan enak, namun nun jauh di kampung sana kedua orang tua kita hanya makan dengan berlaukkan garam. Jangan sampai orang tua harus berhutang pada orang lain untuk membiayai sekolah adik-adik kita, sedangkan di sini kita hidup dengan bergelimang harta. Dan jangan sampai di usianya yang sudah renta, orang tua tetap harus berjuang bekerja keras demi menyambung hidup.
3. Tidak Acuh Terhadap Kedua Orang Tua Akan Menyebabkan Kita Tidak Diacuhkan Pula Oleh Orang Lain
Seseorang yang terhadap kedua orang tuanya saja mempunyai sikap tidak peduli, tidak akan mempedulikan penderitaan orang lain. Misalnya saja ketika ada tetangganya yang kelaparan, ia tidak akan ambil pusing. Padahal mungkin saja suatu saat tetangga itu dimudahkan rizkinya oleh Allah SWT sehingga menjadi orang berkecukupan.
Bahkan mungkin kali ini kitalah yang membutuhkan pertolongannya. Namun sikap tidak acuh kita dahulu rupanya menjadi bumerang di kemudian hari. Si tetangga berbalik tidak mau mengulurkan tangan untuk menolong kita. Padahal terhadap orang lain, si tetangga sangat dermawan.
Sikap peduli terhadap orang lain ini sejatinya kita awali dengan memupuk kepedulian terhadap kedua orang tua. Dua orang terbaik yang telah membesarkan kita dengan penuh kasih sayang tanpa pamrih.
Demikian korelasi antara berbagai kesulitan hidup yang dialami hubungannya dengan adab terhadap orang tua. Semoga baik penulis maupun pembaca bisa mengambil pelajaran dan lebih meng-instropeksi diri akan adab-adab terhadap orang tua selama ini. Kemudian, diharapkan tahapan selanjutnya setelah instropeksi diri adalah adanya perbaikan sikap dan perlakuan terhadap kedua orang tua. Aamiin.
les privat yogyakarta, les privat jogja, les privat sleman, les privat bantul, les privat islami, les privat murah, les privat jogja berkualitas, bimbingan belajar jogja, bimbingan belajar yogyakarta, kursus jogja, bimbel jogja, bimbel yogyakarta, khalifah education, les privat khalifah education, les privat berkualitas, les privat profesional
Les Privat Yogyakarta?
www.khalifaheducation.com
sumber :http://www.loveislam.id/2016/05/bingung-pusing-banyak-masalah-rejeki.html
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamudari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (Q.S. At-Tahrim: 6).
Peran keluarga begitu penting dalam pembentukan kepribadian. Pertumbuhan dan perkembangan anak terbentuk melalui kebiasaan yang dilakukan oleh keluarga dalam mendidik dan berinteraksi dengan anak. Keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam mendidik serta membentuk kepribadian anak.
Abi dan Ummi, ada beberapa fase anak yang harus diketahui dalam membentuk kepribadiannya, yaitu sebagai berikut.
Fase dari lahir—usia 1 tahun merupakan masa anak dalam membangun kepercayaan.
Fase usia 2—3 tahun merupakan masa anak untuk membangun kemandirian.
Fase usia 4—5 tahun merupakan masa membangun inisiatif. Anak akan lebih aktif dan tegas dalam mengeksplorasi dunia melalui imajinasi dan pengalaman.
Fase usia 6—12 tahun merupakan masa anak untuk berkarya dan menunjukkan prestasinya. Pada fase ini, anak akan mengembangkan bakat dan kemampuannya untuk mencapai kompetensi.
Fase usia 12—18 tahun merupakan masa bagi anak mengembangkan identitas, menerima diri sendiri, dan mandiri.
Berdasarkan fase-fase di atas, Rasul mengajarkan tata cara dalam mendidik anak agar terbentuk kepribadian yang baik, yaitu sebagai berikut.
1. Membangun Hubungan yang Erat dengan Anak
Hubungan yang erat dengan anak akan membuat anak merasa aman dan nyaman untuk terbuka dalam menceritakan berbagai hal dalam hidupnya.
2. Membangun Kemampuan Berpikir Anak
Abi dan Ummi, dengan kemampuan berpikir yang baik, kelak anak akan mudah mencari solusi dari setiap permasalahan yang ia hadapi di kehidupan sehari-hari, tentunya sesuai dengan nilai-nilai Alquran.
3. Melakukan Interaksi dengan Lembut terhadap Anak
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya sikap lembut tidak ada pada sesuatu, kecuali pasti membuatnya indah dan tidak dicabut dari sesuatu, kecuali pasti mengeruhkannya.”
Seorang anak akan lebih mudah percaya dan menuruti dari setiap kata dan perbuatan yang lembut juga tidak menyakiti. Jadi, Abi dan Ummi harus bisa berinteraksi dengan lembut kepada anak.
4. Memberikan Motivasi Terhadap Anak dengan Pujian
Rasulullah memotivasi Abdullah bin Umar saat Abdullah masih kecil dengan ucapan beliau, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bila ia salat di malam hari.” Setelah mendengar ucapan Rasulullah tersebut, Abdullah tidak tidur malam, kecuali sedikit.
Pujian yang diberikan kepada anak akan menambah motivasi dan semangat dalam dirinya untuk kembali mengulang perbuatan baiknya.
5. Menghindari Mencaci dan Mencela Anak
Memperlakukan anak secara kasar hanya akan membuat perasaan anak terguncang. Akibatnya, anak akan membenci keluarganya.
6. Menjadi Teladan bagi Anak
Bimbingan yang diberikan kepada anak melalui teladan atau memberikan contoh yang langsung di hadapan anak merupakan cara mendidik yang paling baik. Dengan teladan, anak akan lebih mudah memahami dan mengikuti setiap perbuatan yang dilakukan oleh keluarga.
Abi dan Ummi, ada beberapa tahap peran keluarga dalam membentuk kepribadian anak, yaitu sebagai berikut.
Peran keluarga dalam membekali keimanan yang kuat dan akidah yang benar.
Peran keluarga dalam mendidik dan membekali kecerdasan emosi anak.
Peran keluarga dalam membekali life skill bagi anak.
Apabila kepribadian yang baik telah terbentuk melalui pendidikan dalam keluarga, anak akan lebih mudah memilih jalan dan cara terbaik dalam menjalani kehidupan. Selamat menjalankan peran keluarga secara baik ya, Abi dan Ummi.
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamudari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu (Q.S. At-Tahrim: 6).
Peran keluarga begitu penting dalam pembentukan kepribadian. Pertumbuhan dan perkembangan anak terbentuk melalui kebiasaan yang dilakukan oleh keluarga dalam mendidik dan berinteraksi dengan anak. Keluarga merupakan tempat pertama dan utama dalam mendidik serta membentuk kepribadian anak.
Abi dan Ummi, ada beberapa fase anak yang harus diketahui dalam membentuk kepribadiannya, yaitu sebagai berikut.
Fase dari lahir—usia 1 tahun merupakan masa anak dalam membangun kepercayaan.
Fase usia 2—3 tahun merupakan masa anak untuk membangun kemandirian.
Fase usia 4—5 tahun merupakan masa membangun inisiatif. Anak akan lebih aktif dan tegas dalam mengeksplorasi dunia melalui imajinasi dan pengalaman.
Fase usia 6—12 tahun merupakan masa anak untuk berkarya dan menunjukkan prestasinya. Pada fase ini, anak akan mengembangkan bakat dan kemampuannya untuk mencapai kompetensi.
Fase usia 12—18 tahun merupakan masa bagi anak mengembangkan identitas, menerima diri sendiri, dan mandiri.
Berdasarkan fase-fase di atas, Rasul mengajarkan tata cara dalam mendidik anak agar terbentuk kepribadian yang baik, yaitu sebagai berikut.
1. Membangun Hubungan yang Erat dengan Anak
Hubungan yang erat dengan anak akan membuat anak merasa aman dan nyaman untuk terbuka dalam menceritakan berbagai hal dalam hidupnya.
2. Membangun Kemampuan Berpikir Anak
Abi dan Ummi, dengan kemampuan berpikir yang baik, kelak anak akan mudah mencari solusi dari setiap permasalahan yang ia hadapi di kehidupan sehari-hari, tentunya sesuai dengan nilai-nilai Alquran.
3. Melakukan Interaksi dengan Lembut terhadap Anak
Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya sikap lembut tidak ada pada sesuatu, kecuali pasti membuatnya indah dan tidak dicabut dari sesuatu, kecuali pasti mengeruhkannya.”
Seorang anak akan lebih mudah percaya dan menuruti dari setiap kata dan perbuatan yang lembut juga tidak menyakiti. Jadi, Abi dan Ummi harus bisa berinteraksi dengan lembut kepada anak.
4. Memberikan Motivasi Terhadap Anak dengan Pujian
Rasulullah memotivasi Abdullah bin Umar saat Abdullah masih kecil dengan ucapan beliau, “Sebaik-baik lelaki adalah Abdullah bila ia salat di malam hari.” Setelah mendengar ucapan Rasulullah tersebut, Abdullah tidak tidur malam, kecuali sedikit.
Pujian yang diberikan kepada anak akan menambah motivasi dan semangat dalam dirinya untuk kembali mengulang perbuatan baiknya.
5. Menghindari Mencaci dan Mencela Anak
Memperlakukan anak secara kasar hanya akan membuat perasaan anak terguncang. Akibatnya, anak akan membenci keluarganya.
6. Menjadi Teladan bagi Anak
Bimbingan yang diberikan kepada anak melalui teladan atau memberikan contoh yang langsung di hadapan anak merupakan cara mendidik yang paling baik. Dengan teladan, anak akan lebih mudah memahami dan mengikuti setiap perbuatan yang dilakukan oleh keluarga.
Abi dan Ummi, ada beberapa tahap peran keluarga dalam membentuk kepribadian anak, yaitu sebagai berikut.
Peran keluarga dalam membekali keimanan yang kuat dan akidah yang benar.
Peran keluarga dalam mendidik dan membekali kecerdasan emosi anak.
Peran keluarga dalam membekali life skill bagi anak.
Apabila kepribadian yang baik telah terbentuk melalui pendidikan dalam keluarga, anak akan lebih mudah memilih jalan dan cara terbaik dalam menjalani kehidupan. Selamat menjalankan peran keluarga secara baik ya, Abi dan Ummi.
Setelah anak berusia 6-8tahun, anak diharapkan telah cukup mengetahui hakikat kepemilikan dan kejujuran. Pada kisaran usia tersebut, anak hendaknya sudah dapat membedakan antara dunia nyata dan dunia fantasi sehingga lebih memahami apa yang benar dan apa yang salah. Karena itu, orang tua perlu memberikan pendidikan anak agar ia mulai memahami betapa pentingnya rasa kejujuran dalam mengungkapkan apa yang benar dan apa yang salah.
Lalu, bagaimana jika anak ternyata sudah mulai atau telah berbohong? Atau bahkan mencuri? Nah, itulah saatnya Abi dan Ummi benar-benar menyadari pentingnya pendidikan anak agar ia tidak mengulangi kesalahannya. Jika anak Abi dan Ummi selalu menjunjung kejujuran, teruslah tuntun anak agar ia tidak terpengaruh lingkungan anak-anak yang nakal. Akan tetapi, jika anak ternyata berbohong atau mencuri, inilah cara-cara untuk mengatasinya.
1. Jika Anak Berbohong
Jika anak berbohong. (i.huffpost.com)
a. Katakanlah bahwa Abi dan Ummi jauh lebih menyukai kejujuran, meskipun terkadang kejujuran itu bisa menyakitkan.
Tegaskan bahwa kejujuran itu mutlak, tentunya Abi dan Ummi pun harus membuktikannya dalam tindakan. Satu yang perlu Abi dan Ummi ingat, jangan pernah berbohong kepada anak.
b. Tunjukkan rasa kasih sayang Abi dan Ummi agar anak mengetahui bahwa cinta orang tuanya tulus tanpa syarat.
Cinta yang tulus tanpa syarat dapat membuat anak yang memiliki masalah bisa lebih terbuka kepada Abi dan Ummi.
c. Evaluasi kembali bagaimana cara Abi dan Ummi dalam memberikan pendidikan anak.
Apakah Abi dan Ummi terlalu keras sehingga anak menjadi takut untuk bercerita yang sebenarnya? Apakah Abi dan Ummi sering membentak anak bila anak mengatakan kesalahannya?
d. Lakukanlah pendekatan dengan anak secara lembut, tetapi tetap tegas.
Bisa saja anak memiliki alasan yang kuat mengapa ia terpaksa berbohong. Dalam menyikapi segala permasalahan anak, Abi dan Ummi sebagai orang tua, hendaknya tidak bersikap su’udzon. Buatlah anak menyadari kesalahannya dan menyesal akan perbuatannya. Jangan membuat ia akan merasa dihakimi oleh orang tuanya.
2. Jika anak mencuri
a. Jaga kestabilan emosi Abi dan Ummi.
Dalam masalah ini yang perlu dipahami tidaklah tentang siapa yang bersalah, tetapi bagaimana solusi yang tepat untuk mengatasi hal ini.
b. Jangan memukul anak bila ia mencuri sesuatu milik Abi dan Ummi.
Jika anak mencuri sesuatu dari orang di luar keluarga, misalnya teman, ajak dan temani anak untuk mengembalikan sesuatu tersebut.
c. Tegaskan pada anak bahwa Abi dan Ummi akan sangat kecewa bila ia mencuri lagi.
Katakan dengan tegas, bahwa mencuri, berbohong, dan sejenisnya termasuk hal yang tidak disukai Allah.
d. Mintalah anak untuk terbuka sehingga anak dapat menjelaskan alasannya mencuri.
e.Tidak memberi kesempatan untuk mencuri.
Misalnya tidak meletakkan uang atau semacamnya secara sembarangan.
f. Jika anak mengulangi perbuatannya, bahkan sampai beberapa kali, cobalah cari bantuan pihak ketiga, seperti guru BK atau psikolog.
Menangani anak yang berbohong dan mencuri harus tetap menggunakan hati. Katakan bahwa Abi dan Ummi secara tegas tidak menyukai kedua perilaku tersebut. Bicaralah pada anak dari hati ke hati. Biarkan anak merasakan betapa peduli dan penuh perhatiannya Abi dan Ummi sehingga ia sadar sendiri atas kesalahannya. Jika anak dibentak dengan keras atau bahkan dipukul, ada kemungkinan anak akan melawan, memberontak, atau melakukan kembali kesalahannya karena merasa dikekang orang tuanya.
Jadi, Abi dan Ummi dalam memberikan pendidikan anak diharuskan menjaga kestabilan emosinya. Anak senantiasa berperilaku dengan mengikuti orang tuanya, maka biasakan diri agar dapat mencontohkan semua perilaku yang baik kepada anak.
les privat yogyakarta, les privat jogja, les privat sleman, les privat bantul, les privat islami, les privat murah, les privat jogja berkualitas, bimbingan belajar jogja, bimbingan belajar yogyakarta, kursus jogja, bimbel jogja, bimbel yogyakarta, khalifah education, les privat khalifah education, les privat berkualitas, les privat profesional
Les Privat Yogyakarta?
www.khalifaheducation.com
Sumber :http://abiummi.com/pendidikan-anak-berbohong-atau-mencuri/
Dalam mendidik anak, orang tua yang baik adalah orang tua yang memiliki kemampuan mengendalikan situasi. Dapat mengontrol emosi, dan punya cara yang kreatif agar anak dapat lebih terkendali. Marah dan membentak tidak lagi bisa menjadi solusi, baiknya ikuti 7 cara mendidik yang dipaparkan oleh ustadz farid ini agar ketika menjalankan pola asuh orang tua sudah memiliki “amunisi”.
Ustadz Faridz (sumber: i.ytimg.com)
Jangan Buang Waktu untuk Mendiamkan Anak yang Sedang Menangis
tunjuk langit (sumber: stripes.com)
Ketika anakmu menangis, jangan buang waktumu untuk mendiamkannya. “Cup cup cup jangan nangis dong, nak.” Dari pada membujuknya, lebih baik coba tunjuk burung atau awan di atas langit agar ia melihat ke atas, dan anak akan terdiam. Karena menurut ust Farid secara psikologis, saat manusia menangis ia pasti akan menunduk.
Jika Anda ingin anak-anak menghentikan permainannya, jangan berkata. “Ayo, sudah. Stop mainnya sekarang!” Namun berikanlah mereka tenggat waktu agar mereka dapat lebih menghargai waktu yang mereka miliki. Misal, “Mainnya 5 menit lagi, ya.” Kemudian ingatkan kembali, “dua menit lagi, ya.” Kemudian jika waktunya benar-benar habis barulah katakan pada mereka. “Ayo, waktu main sudah habis.” Dan mereka akan berhenti bermain.
Jangan Peringatkan Anak untuk Tidak Gaduh dan Berisik
Sssst, jangan berisik (sumber: i.huffpost.com)
Dari pada meminta mereka diam lebih baik Anda yang bicara dan buat mereka mendengarkan Anda. Misal di sebuah tempat banyak sekumpulan anak-anak yang berisik dan mereka membuat gaduh tempat tersebut. Jangan katakan. “Pssst. Jangan berisik.” Tapi katakanlah, “Ayo siapa yang mau dengar cerita saya, angkat tangannya.” Jika salah seorang mengangkat tangannya, maka beberapa anak lainnya juga akan menyusul. Dan semuanya akan diam mendengarkan Anda.
Jangan Minta Anak Bangun Pagi untuk Bisa Pergi Sekolah Lebih Pagi
tidak salat subuh dulu (sumber: i.huffpost.com)
Saat menjelang tidur, jangan katakan pada anak. “Ayo tidur, besok kan ke sekolah harus berangkat pagi.” Dengan begitu maka perhatian mereka hanya tertuju pada dunia dan tidak peduli pada kewajiban akhiratnya. Lebih baik katakan pada anak Anda. “Ayo tidur sayang. Besok pagi kita kan harus salat subuh.” Dengan begitu anak akan bangun pagi untuk salat subuh. Ketika perhatiannya kamu alihkan ke salat subuh, maka anak akan tetap bisa berangkat pagi ke sekolah.
Jangan Menjadi Orang Dewasa Ketika Bersama Mereka
main bersama (sumber: bristolmum.files.wordpress.com)
Waktu kecil mereka akan terasa sangat singkat. Maka nikmati masa-masa kecil mereka, masa-masa lucu dan polosnya mereka yang suatu saat akan menjadi kenangan. Jangan selalu bersikap sebagai orang dewasa di hadapan mereka. Bermainlah, dan jadilah anak kecil saat sedang bermain bersama mereka. Ajarkan kebaikan pada mereka dengan cara yang fun yaitu dengan turut serta bermain.
Tinggalkan HP dan Matikan Televisimu
Terlalu sibuk dengan gadget (sumber: timedotcom.files.wordpress.com)
Gadget secara tidak sadar akan selalu menyita perhatianmu dari kehidupannya nyata di sekitarmu. Termasuk keberadaan anak-anakmu. Televisi pun begitu, tayangan yang semakin hari kian tidak baik jika dikonsumsi oleh anak, lama-kelamaan akan menjadi “adiksi” bagi para penikmatnya. Maka jika ada teman yang menelepon ketika kamu sedang ingin memiliki quality time dengan anak-anakmu. Angkat teleponnya dan katakan. “Maaf say, saat ini saya sedang sibuk mendampingi anak-anak. Nanti saya telepon kembali ketika mereka sudah tidur.” Hal ini tidak akan membuat wibawamu jatuh. Orang yang bijaksana akan tahu bagaimana membuat segala sesuatunya menjadi seimbang. Persahabatnnya tidak rusak, pendidikan anak pun tidak terbengkalai.
Jangan Hanya Mengasuh Tapi Juga Mendoakan Mereka
anak-anak muslim (sumber: i.huffpost.com)
Apa pun upaya yang telah Anda lakukan, tetap harus dipasrahkan. Jadi, jangan hanya fokus pada pola asuh yang baik dan benar kepada anak saja. Tapi sertakan pula doa kepada Allah, agar kiranya Allah ridha menjadikan hambanya yang masih kecil-kecil itu menjadi perhiasan yang menyenangkan bagimu baik di dunia maupun yang akan menjadi penyelamatmu di akhirat kelak.
les privat yogyakarta, les privat jogja, les privat sleman, les privat bantul, les privat islami, les privat murah, les privat jogja berkualitas, bimbingan belajar jogja, bimbingan belajar yogyakarta, kursus jogja, bimbel jogja, bimbel yogyakarta, khalifah education, les privat khalifah education, les privat berkualitas, les privat profesional
Mendidik anak berpuasa adalah salah satu tugas Abi dan Ummi selaku orang tua. Maka didiklah mereka dengan ilmu dan pengajaran yang baik. Karena kelak, apa yang sudah Abi dan Ummi ajarkan kepada anak akan menjadi sesuatu yang berharga bagi mereka. Sesuatu yang dapat mereka terapkan bahkan sesuatu yang dapat mereka ajarkan kembali ke penerusnya. Nah, berbicara mengenai mendidik anak berpuasa tentu masing-masing dari orang tua memiliki metode yang berbeda. Namun, bagaimapaun metodenya asalkan itu untuk tujuan yang baik dan dilakukan dengan cara yang baik maka tidak akan menjadi masalah, justru perbedaan itu akan menjadi variasi tersendiri dalam mendidik anak.
Para sahabat Nabi pun telah melakukan hal ini sejak masa silam, mereka mendidik anak-anak mereka untuk berpuasa sejak dini dengan berbagai metode. Salah satu metodenya akan diceritakan pada hadis berikut ini. Yuk, kita lihat bagaimana metode yang mereka gunakan untuk mendidik anak berpuasa!
Dari Ar Rubayyi’ binti Mu’awwidz, ia berkata, “Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah mengutus seseorang ke salah satu suku Anshar di pagi hari Asyura, beliau bersabda, ‘Siapa yang di pagi hari dalam keadaan tidak berpuasa, hendaklah ia berpuasa. Siapa yang di pagi harinya berpuasa, hendaklah berpuasa.’” Ar Rubayyi’ mengatakan, “Kami berpuasa setelah itu. Lalu anak-anak kami pun turut berpuasa. Kami sengaja membuatkan mereka mainan dari bulu. Jika salah seorang dari mereka menangis, merengek-rengek minta makan, kami memberi mainan padanya. Akhirnya pun mereka bisa turut berpuasa hingga waktu berbuka,” (H.R. Bukhari dan Muslim).
Melihat hadis di atas, ada beberapa metode pendidikan yang dapat kita pelajari dan kita jadikan contoh dalam mendidik anak berpuasa. Apa saja itu? Berikut ini pembahasannya.
1. Mendidik Sejak Kecil
Mendidik anak sejak kecil. (https://hijapedia.com)
Para sahabat Nabi sudah mendidik anak berpuasa sejak anak mereka masih kecil, begitu pula dengan ibadah lainnya. Meskipun para sahabat mengetahui bahwa anak kecil belum di kenakan kewajiban ibadah sampai mereka dewasa/balig. Namun, untuk pendidikan mereka tetap mendidik anak berpuasa sejak dini. Hal ini dilakukan agar anak terbiasa sejak kecil sehingga kelak ketika kewajiban ibadah sudah dikenakan kepada mereka setelah balig, mereka akan mudah melakukannya.
2. Memberikan Teladan
Dalam mendidik anak berpuasa, bisa dilihat bahwa sahabat Nabi memberikan teladan atau contoh berpuasa terlebih dahulu kepada anak mereka, dengan demikian anak mereka akan mudah mengikuti apa yang telah dicontohkan oleh orang tuanya. Ini berarti, keteladanan sikap dari orang tua itu memang sangat berpengaruh dan diperlukan oleh anak.
3. Memberikan Hiburan atau Hadiah
Ketika anak sahabat Nabi menangis dan merengek ingin berbuka puasa, sahabat Nabi memberikan mainan kepada anak mereka sebagai media hiburan anak selama berpuasa, sehingga mereka akan lupa dengan permintaannnya untuk makan dan minum dan melanjutkan puasanya hingga penuh. Ini juga salah satu metode sahabat Nabi dalam mendidik anak berpuasa yang mereka terapkan. Selain itu, para orang tua juga dapat memberikan hadiah kepada anak yang berpuasa sebagai penghargaan kepada mereka agar mereka termotivasi untuk puasa.
4. Mengajarkan Ketaatan kepada Allah Sedari Dini
Berdasarkan hadis di atas, sahabat Nabi mendidik anak berpuasa sejak kecil. Ini berarti mereka telah mendidik dan mengajarkan ketaatan kepada Allah sedari dini, membiasakan anak untuk konsekuen melakukan ibadah kepada Allah serta menanamkan kecintaan kepada Allah sedari dini. Tentu hal ini patut Abi dan Ummi contoh dalam mendidik anak.
Inilah metode mendidik anak berpuasa ala sahabat Nabi yang dapat Abi dan Ummi contoh. Mendidik anak berpuasa itu memang membutuhkan proses dan kesabaran, terlebih jika mendidik anak dilakukan sejak mereka masih kecil. Namun, yakinlah bahwa Allah akan membalas segala kesulitan dan keletihan dalam mendidik anak dengan pahala yang berlimpah.
les privat yogyakarta, les privat jogja, les privat sleman, les privat bantul, les privat islami, les privat murah, les privat jogja berkualitas, bimbingan belajar jogja, bimbingan belajar yogyakarta, kursus jogja, bimbel jogja, bimbel yogyakarta, khalifah education, les privat khalifah education, les privat berkualitas, les privat profesional
Les Privat Yogyakarta?
www.khalifaheducation.com
sumber : http://abiummi.com/metode-mendidik-anak-berpuasa-ala-sahabat-nabi/
Banyak hal-hal kecil yang anak lakukan dan kadang-kadang kita sebagai orang tua selalu salah menyikapinya dengan respons spontan kita. Sebagai contoh, ketika anak marah, kita yang tidak bisa mengendalikan emosi kadang-kadang tersulut juga untuk ikut marah. Padahal, dalam mendidik anak, kita perlu memiliki cara yang tepat dalam menyikapi perilaku anak-anak kita. Nah, di artikel ini, saya ingin memberitahukan 10 langkah mendidik anak secara islami kepada Sahabat Abi Ummi. Disimak, ya!
1. Agar Anak Tidak Suka Berbohong
Berikan rasa aman agar anak tidak berbohong. (Sumber: i.huffpost.com)
Rasa aman dapat membuat anak mau berkata jujur karena anak kecil akan berbohong ketika ia merasa takut atau sedang berada di bawah tekanan. Berikan rasa aman pada anak ketika ia sedang berbicara dengan kita, tanamkan pula nila-nilai kejujuran dan beritahu seberapa penting sebuah kejujuran dalam kehidupannya.
2. Agar Anak Tidak Keras Kepala
Jangan bersikap keras jika anak sudah bersikap keras. (Sumber: i.ytimg.com)
Jangan pernah melawan sikap keras kepalanya karena seorang anak bercermin pada yang ia lihat. Maka, berikan banyak cinta dan pelukan dalam hidupnya, baik dari kita maupun dari seluruh anggota keluarga. Ciptakan keluarga yang tidak malu menunjukkan rasa cinta.
3. Jika Anak Terlalu Aktif
Anak hiperaktif. (Sumber: blog.yasabe.com)
Agar keaktifnya tidak banyak merugikan orang lain, sibukkan ia dengan kegiatan kinetik dan perbanyaklah gerak yang positif. Berikan ia tanggung jawab terhadap suatu hal.
4. Agar Anak Tidak Susah Makan
Jangan marahi anak jika ia malas makan. (Sumber: blogpsikologi.com)
Jangan memarahinya karena marah justru membuatnya lebih tidak mood lagi untuk memakan makanannya. Usahakan buat suasana yang menyenangkan ketika makan dengan membuat permainan atau perlombaan. Atau, biasakan selalu makan bersama keluarga di meja makan karena makan akan terasa menyenangkan baginya jika dilakukan bersama. Berikan buah-buahan yang memiliki warna yang menarik. Mungkin penyajian yang menarik juga akan membuat selera makannya bertambah.
5. Agar Anak Tidak Mudah Memukul (Mem-bully) Adiknya
Kecemburuan kakak terhadap adiknya. (Sumber: psychalive.org)
Tidak ada satu pun anak yang suka dibanding-bandingkan, terlebih ketika anak kita baru saja memiliki adik sehingga perasaan cemburu pada adiknya akan begitu besar. Berusahalah untuk berlaku adil. Jangan menampakkan rasa cinta yang lebih besar kepada salah satunya. Usahakanlah agar keduanya mendapatkan porsi yang sama. Agar seorang kakak tidak cemburu pada adiknya, libatkan ia dalam proses merawat adiknya. Buat sang kakak memiliki rasa cinta dan tanggung jawab untuk menjaga adiknya juga.
6. Agar Anak Tidak Kecanduan Bermain Games
agar anak tidak kecanduan bermain game (www.ezyhealth.com)
Berikan ia waktu untuk menghentikan permainannya. Katakan padanya, “Mainnya 5 menit lagi, ya.” Sambil terus kita dampingi, ingatkan ia lagi, “Tinggal 2 menit lagi, ya.” Nah, ketika waktunya sudah habis, katakan, “Ayo, permainannya sudah selesai, waktunya sudah habis.” Jangan menyuruh ia menghentikan permainannya secara tiba-tiba karena hal itu justru akan membuatnya tidak mau menuruti kita dan malah membuatnya semakin kecanduan.
7. Jika Anak Mengucapkan Perkataan Kotor
Jangan katakan perkataan buruk di depan anak. (Sumber: feminist.org)
Mulailah dari diri sendiri untuk selalu mengatakan yang baik-baik. Buang jauh-jauh perkataan kotor dalam diri kita. Ketika anak kita mengucapkan kata-kata kotor, jangan membentaknya. Peringatkan dengan cara yang lembut dan ingatkan bahwa kebersihan lisan adalah bagian dari kebersihan hati. Berikan rasa aman padanya ketika kita bertanya dari mana ia mendapatkan kata-kata kotor tersebut agar ia mau berkata jujur dan kita dapat lebih mengawasi pergaulannya.
8. Agar Anak Mau Diajak Salat
Ajarkan anak salat. (Sumber: gaptekupdate.com)
Perkenalkan anak dengan Allah. Berikan ia pemahaman bahwa segala nikmat, seperti jajanan yang ia dapatkan, mainan yang ia miliki, dan uang yang ia peroleh, itu merupakan nikmat yang Allah berikan. Selain itu, ajarkan ia untuk berterima kasih kepada Allah dengan cara berdoa dan salat. Berikan pemahaman bahwa salat adalah ibadah yang wajib dilakukan oleh umat muslim. Ajak anak kita untuk salat berjamaah dengan keluarga karena sebaik-baiknya belajar adalah pembelajaran yang ia dapat dari contoh yang dilakukan oleh abi dan ummi mereka.
9. Agar Anak Tidak Mudah Marah
Berikan perhatian agar anak tidak mudah marah. (Sumber: s-media-cache-ak0.pinimg.com)
Mungkin kemarahan itu bisa timbul karena ia merasa kurang diperhatikan. Untuk mencegah hal ini, kita sebagai orang tua harus bisa menjadi orang yang selalu memperhatikan setiap pertumbuhan anak dengan memperbanyak komunikasi. Coba cari tahu hal-hal yang terjadi pada anak dari mana pun. Ketika anak marah, kitalah yang harus bersikap tenang dan memberikan ia ketenangan. Lalu, agar anak juga jadi lebih dekat dengan Islam, ajarkan ia untuk berwudu ketika ia marah. Minta ia untuk tenang dan menceritakan masalahnya dengan kepala dingin.
10. Ketika Anak Menggigit Kuku atau Mengisap Jarinya
Ketika kita menyaksikan hal tersebut terjadi pada anak kita, bisa jadi anak kita sedang merasa takut dan gelisah. Atau, mungkin ia sedang merasa ada sesuatu yang mengancamnya, juga ia sedang merasa rendah diri karena merasa sedang dibanding-bandingkan. Sebagai orang tua, kita perlu memberikannya rasa aman. Katakan bahwa semua akan baik-baik saja. Ketika ia merasa rendah diri, katakan bahwa ia istimewa dan berarti bagimu.
Selamat menjadi abi dan ummi yang dapat memahami kondisi anak, ya. Niatkan melakukan 10 langkah mendidik anak secara islami ini semata-mata karena Allah saja.
Wallahualam bissawab…
les privat yogyakarta, les privat jogja, les privat sleman, les privat bantul, les privat islami, les privat murah, les privat jogja berkualitas, bimbingan belajar jogja, bimbingan belajar yogyakarta, kursus jogja, bimbel jogja, bimbel yogyakarta, khalifah education, les privat khalifah education, les privat berkualitas, les privat profesional
Les Privat Yogyakarta?
www.khalifaheducation.com
sumber : http://abiummi.com/10-langkah-mendidik-anak-secara-islami/